Dua Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun

Oleh Andreas Hartono, CFP · 6 menit baca

Ilustrasi judul artikel dua cara menghitung kebutuhan dana pensiun, hasil Rp 2,4 miliar dan Rp 4 miliar

Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta.

“Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa uang yang Anda butuhkan nanti pada saat pensiun?”

Ruangan biasanya diam sebentar. Lalu satu dua orang menjawab.

“Belum pernah, Pak.” “Pernah, Pak Andreas. Tapi kira-kira saja.”

Dari training-training yang saya bawakan, sekitar 80–90% peserta menjawab tidak pernah menghitung. Sisanya menjawab pernah. Tapi begitu saya kejar caranya, jawabannya ya kira-kira tadi.

Siapkan karyawan Anda menjelang purnabakti Lihat Training Persiapan Pensiun →

Di artikel sebelumnya tentang 8 penyebab uang pesangon pensiun cepat habis, penyebab nomor satunya adalah uang pensiunnya memang tidak cukup sejak awal. Hari ini saya ingin membuktikan bahwa itu benar. Dengan dua cara hitung yang dua-duanya bisa Anda kerjakan sambil duduk, tanpa kalkulator.

Dan menurut saya, alasan orang tidak menghitung bukan karena hitungannya sulit. Hitungannya justru gampang sekali. Orang tidak menghitung karena begitu dihitung, angkanya tidak enak dilihat.

Cara Pertama: Hitung Sampai Uangnya Habis

Cara pertama ini cara yang sederhana. Saya biasa menyebutnya cara bodoh-bodohan — bukan karena orang yang memakainya, tapi karena rumusnya memang tidak memakai asumsi apa pun. Semuanya lurus.

Katakanlah gaji Anda sekarang Rp 10 juta sebulan. Saya pakai angka ini supaya gampang dihitung.

Pertanyaan pertama: nanti waktu pensiun, Anda mau hidup dengan gaya hidup seperti apa? Misalnya Anda menjawab sama seperti sekarang, Rp 10 juta sebulan.

Berarti setahun Anda butuh Rp 10 juta dikali 12, sama dengan Rp 120 juta.

Pertanyaan kedua, dan ini yang biasanya bikin peserta tertawa: Anda mau hidup sampai umur berapa?

Kalau ditanya begitu, orang bingung. Ya sudah, kita pakai data statistik saja. Angka harapan hidup orang Indonesia ada di kisaran 71 tahun untuk laki-laki dan 73 tahun untuk perempuan. Supaya gampang menghitungnya, kita bulatkan ke atas saja: 75 tahun.

Dan katakanlah Anda pensiun di umur 55. Berarti masa pensiun Anda 75 dikurangi 55, sama dengan 20 tahun.

Sekarang tinggal kalikan:

Rp 120 juta setahun × 20 tahun = Rp 2,4 miliar.

Itu dana pensiun yang Anda butuhkan.

“Wah, Pak, kalau saya nanti hemat-hemat bagaimana? Saya cukup separuh dari gaji terakhir saja.”

Boleh. Tinggal dibagi dua. Rp 5 juta × 12 × 20 tahun = Rp 1,2 miliar.

Jadi, dengan gaji Rp 10 juta, kebutuhan dana pensiun Anda ada di antara Rp 1,2 miliar sampai Rp 2,4 miliar. Tergantung gaya hidup yang Anda pilih.

Hitungan cara sederhana: pengeluaran Rp 10 juta sebulan dikali 12 dikali 20 tahun sama dengan Rp 2,4 miliar

Lalu Berapa Uang yang Benar-Benar Anda Terima?

Sekarang kita bandingkan dengan uang yang akan Anda pegang nanti.

Misalkan pesangon Anda 32 kali gaji. Berarti Rp 10 juta × 32 = Rp 320 juta.

Yang dibutuhkan Rp 1,2 miliar. Yang diterima Rp 320 juta.

Coba lihat angka itu bukan sebagai jumlah, tapi sebagai durasi. Rp 320 juta dibagi pengeluaran Rp 10 juta sebulan sama dengan 32 bulan. Dua tahun delapan bulan. Sesudah itu, tidak ada apa-apa lagi.

Padahal masa pensiun yang kita hitung tadi 20 tahun.

Ini bukan menakut-nakuti. Ini aritmatika biasa.

Cara Kedua: Hitung Supaya Uangnya Tidak Perlu Habis

Sekarang cara yang kedua. Ini cara yang lebih pintar, dan rumusnya sama gampangnya.

Pengeluaran sebulan, dikali 12. Sampai sini sama. Bedanya, kalau tadi hasilnya dikali harapan hidup, sekarang hasilnya dibagi bunga deposito.

Berapa bunga depositonya? Kalau kita lihat kondisi sekarang, kita asumsikan saja 3% per tahun. Kadang malah tidak sampai segitu, tapi kita pakai 3% biar hitungannya enak.

Rp 10 juta × 12 = Rp 120 juta.

Rp 120 juta ÷ 3% = Rp 4 miliar.

Jadi dana pensiun yang Anda butuhkan Rp 4 miliar.

Pertanyaannya, apakah uang pensiun Anda ada Rp 4 miliar? Boro-boro Rp 4 miliar. Rp 1,2 miliar saja tadi sudah tidak ada.

Kenapa Cara Kedua Saya Sebut Lebih Pintar

Perhatikan bedanya.

Di cara pertama, Anda punya Rp 2,4 miliar. Setiap bulan Anda ambil Rp 10 juta. Tidak dihitung bunganya, tidak dihitung apa pun. Berapa lama uang itu bertahan? Sekitar 20 tahun. Setelah itu habis.

Dan kalau umur Anda ternyata lebih panjang dari 75? Anda hidup, tapi uangnya sudah tidak ada.

Di cara kedua, Anda punya Rp 4 miliar. Uang itu Anda taruh di deposito dengan bunga 3% per tahun. Bunganya saja sudah Rp 120 juta setahun, atau sekitar Rp 10 juta sebulan.

Berarti setiap bulan Anda hidup dari bunganya saja. Pokoknya tidak Anda sentuh sama sekali.

Berapa lama uang itu bertahan? Seterusnya. Karena yang Anda pakai memang bukan uangnya, melainkan hasil dari uangnya.

Itu bedanya. Cara pertama menghitung berapa banyak uang yang harus Anda habiskan. Cara kedua menghitung berapa banyak uang yang harus Anda punya supaya tidak perlu menghabiskannya.

Hitungan cara pintar: Rp 10 juta dikali 12 dibagi bunga deposito 3 persen sama dengan Rp 4 miliar

Ini Bukan Kalkulator yang Ideal

Kalau Anda bertanya apakah perhitungan ini sudah benar dan ideal, jawaban saya jujur: belum.

Kedua cara di atas datar. Tidak ada inflasi di dalamnya. Padahal Rp 10 juta hari ini dan Rp 10 juta lima belas tahun lagi jelas bukan uang yang sama besar.

Bunganya juga diasumsikan tetap 3% setiap tahun sampai kapan pun, padahal aktualnya naik turun.

Tapi paling tidak, sekarang Anda punya dua angka kasar. Dan dua angka kasar yang Anda hitung sendiri jauh lebih berguna daripada perasaan “kayaknya sih cukup” yang tidak pernah diuji.

Rangkuman

  1. Cara pertama, cara sederhana: pengeluaran sebulan × 12 × jumlah tahun masa pensiun.
  2. Dengan gaji Rp 10 juta dan masa pensiun 20 tahun, hasilnya Rp 2,4 miliar. Kalau gaya hidupnya diturunkan separuh, Rp 1,2 miliar.
  3. Cara kedua, cara yang lebih pintar: pengeluaran sebulan × 12 ÷ bunga deposito per tahun.
  4. Dengan asumsi bunga 3%, hasilnya Rp 4 miliar.
  5. Bedanya: di cara pertama Anda memakan pokoknya sampai habis. Di cara kedua Anda hidup dari bunganya dan pokoknya tetap utuh.
  6. Pembandingnya: pesangon 32 kali gaji hanya Rp 320 juta — setara 32 bulan pengeluaran, bukan 20 tahun.
  7. Kedua cara ini belum memperhitungkan inflasi. Anggap ini hitungan awal, bukan hitungan final.

Catatan untuk HR dan Manajemen

Yang menarik dari dua rumus di atas bukan hasilnya, tapi reaksinya di ruang kelas.

Selama ini banyak program persiapan pensiun dimulai dari materi investasi: reksa dana, saham, properti, usaha. Peserta mendengarkan, mengangguk, lalu pulang tanpa berubah. Alasannya sederhana — mereka belum tahu masalahnya sebesar apa. Solusi yang datang sebelum masalah terasa tidak akan dipakai.

Karena itu di kelas saya, hitungan ini selalu datang lebih dulu. Ketika peserta menghitung angkanya sendiri, dengan gajinya sendiri, dengan pesangonnya sendiri, barulah ruangan berubah. Setelah itu materi investasi baru masuk.

Tiga hal yang bisa perusahaan pertimbangkan:

  • Jadwalkan program pra-pensiun jauh sebelum masa akhir bekerja. Kalau hitungan ini baru muncul enam bulan sebelum pensiun, karyawan hanya bisa kaget. Kalau muncul lima sampai sepuluh tahun sebelumnya, angkanya masih bisa diubah.
  • Pastikan pesertanya menghitung, bukan mendengarkan. Materi yang dihitung sendiri bertahan; materi yang hanya ditonton hilang di pintu keluar.
  • Perhitungan ini juga berguna bagi perusahaan. Selisih antara kebutuhan dan pesangon adalah gambaran kasar tekanan finansial yang akan dihadapi karyawan Anda saat pensiun — dan tekanan itu biasanya sudah mulai terasa di tahun-tahun terakhir mereka bekerja.

Program Persiapan Pensiun (MPP) yang saya bawakan selalu dimulai dari sesi hitung-hitungan seperti ini.

Yang Bisa Anda Lakukan Hari Ini

Ambil kertas. Tulis pengeluaran Anda sebulan. Kalikan 12. Lalu kerjakan dua-duanya: kalikan dengan sisa tahun hidup Anda setelah pensiun, dan bagi dengan 3%.

Sekarang bandingkan kedua angka itu dengan uang pensiun yang akan Anda terima.

Kalau selisihnya besar, itu wajar. Hampir semua peserta saya mengalaminya. Yang tidak wajar adalah tahu selisih itu ada dan memilih tidak melihatnya.

Di artikel berikutnya kita akan menghitung ulang dengan cara yang lebih lengkap — memakai inflasi, memakai pertumbuhan dana, dan memakai asumsi yang lebih dekat dengan kenyataan.

Terima kasih.

Artikel lainnya

Masalah Uang & Keuangan

Sejak tahun 2010 ketika saya mengajar training tentang perencanaan keuangan, saya sering bertanya ke peserta training, “Apakah kamu punya masalah uang dan keuangan?” Jawabannya?…

Baca artikel →