Dua Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun
Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta. “Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa…
Baca artikel →
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu saya ajukan kalau bertemu orang yang sudah pensiun di usia 60-65 tahunan.
“Mas, uang pensiunnya masih ada nggak?”
“Waduh, Pak Andreas… tinggal sedikit.”
Saya tanya yang lain. “Mbak, bagaimana uang pensiunnya?”
“Wah, sudah habis, Pak.”
Siapkan karyawan Anda menjelang purnabakti Lihat Training Persiapan Pensiun →
Selama kurang lebih 15 tahun di dunia perencanaan keuangan, jawaban itu yang paling sering saya dengar. Orang-orang di usia 60-an, yang beberapa tahun sebelumnya menerima pesangon dalam jumlah yang kelihatannya besar sekali, sekarang uangnya sudah tidak ada. Kalaupun masih ada, tinggal sisa-sisanya.
Dan yang perlu digarisbawahi: mereka ini bukan orang sembarangan. Banyak di antaranya karyawan perusahaan besar, posisinya bagus, gajinya di atas rata-rata. Bukan orang yang tidak bisa mengelola uang.
Dari situ saya penasaran, lalu mulai bertanya lebih dalam: sebenarnya apa yang membuat uang pensiun mereka secepat itu habis? Jawabannya ternyata berulang-ulang. Ada 8 penyebab uang pesangon pensiun cepat habis yang paling sering muncul, dan kita bahas satu per satu mulai dari nomor delapan.
Ini penyebab yang jarang dibayangkan orang, tapi nyata terjadi.
Kriminal di sini ada dua jenis. Ada hard criminal, ada soft criminal.
Hard criminal itu yang kasat mata: pencurian, perampokan. Korbannya tahu dia jadi korban.
Yang lebih sering justru soft criminal. Contohnya hipnosis. Karena saya juga mempelajari hipnosis, saya tahu betul bagaimana cara kerjanya. Korbannya dibawa masuk ke alam bawah sadar, lalu tanpa perlawanan sama sekali uangnya dikuras.
Dan siapa yang paling sering jadi sasaran? Para pensiunan. Mereka dianggap memegang uang tunai dalam jumlah besar, dan di usia itu daya kritisnya tidak setajam dulu.
Ini yang unik.
Begitu pesangon cair, saldo di rekening kelihatan banyak. Muncullah perasaan, “Wah, sudah cukup ini.” Lalu mulailah bagi-bagi ke anak-anak. Ada yang membagikan uangnya, ada yang langsung membagikan asetnya — rumah, tanah, properti.
Niatnya baik. Masalahnya muncul beberapa tahun kemudian.
Di usia 60, 65, mereka mulai sadar: “Loh, uang pensiun saya kok habis? Aset saya juga sudah tidak ada. Padahal dulu saya masih punya rumah, masih punya properti.”
Warisan memang harus dibagi. Tapi waktunya bukan di awal pensiun, ketika masih ada 20–25 tahun hidup yang harus dibiayai.
Ini sudah klasik, tapi korbannya tidak pernah habis.
Polanya begitu-begitu saja. Ada yang menawarkan imbal hasil tinggi, jauh di atas wajar. Si pensiunan berpikir, “Uang saya terbatas, kalau begini kan bisa berkembang.” Ada keinginan supaya duitnya makin banyak, dan justru keinginan itulah yang dipakai sebagai pintu masuk.
Tanpa disadari, uang yang dikumpulkan puluhan tahun masuk ke jebakan, dan tidak pernah kembali.

Banyak pensiunan ingin punya usaha. Ini bagus, saya dukung. Tapi mari kita lihat kenapa banyak yang gagal.
Rata-rata penyebabnya sama: terlalu berani. Berani mengeluarkan modal dalam jumlah besar, padahal:
Modalnya besar, ilmunya belum ada. Hasilnya bisa ditebak.
Ini penyebab yang paling sulit dihindari, apalagi kalau penyakitnya cukup serius.
Uang pesangon yang niatnya untuk hidup 20 tahun bisa habis dalam hitungan bulan untuk biaya berobat. Satu kali rawat inap yang panjang saja sudah cukup menggerus tabungan pensiun.
Dan ingat, justru di usia pensiun risiko kesehatan naik, sementara proteksi dari kantor sudah berhenti.
Ini soal perasaan.
Begitu uang pesangon masuk, muncul rasa “uang saya cukup banyak nih”. Lalu yang tadinya naik motor, sekarang beli mobil. Yang sudah punya mobil, naik ke mobil yang grade-nya lebih tinggi.
Semuanya terasa wajar saat itu. Tidak ada satu pun keputusan yang terasa salah. Tapi tanpa sadar, uang yang seharusnya menghidupi puluhan tahun ke depan habis untuk hal-hal seperti itu.
Nomor dua ini sebenarnya dua hal, tapi masih satu keluarga.
Yang pertama, bayar utang. Ternyata banyak pensiunan punya utang dalam jumlah cukup besar, dan umumnya utang di luar perbankan. Begitu pesangon cair, langsung terpakai untuk melunasi.
Yang kedua, diutangin. Ini yang sering luput. Dipinjam anak. Dipinjam saudara. Dipinjam orang lain. Sulit ditolak, karena semuanya orang dekat. Dan biasanya, uang yang dipinjam seperti itu jarang kembali utuh.

Nah, ini yang mungkin tidak pernah kita duga. Apalagi buat yang belum pensiun.
Penyebab nomor satu uang pesangon cepat habis adalah: karena memang jumlahnya tidak cukup sejak awal.
Bukan karena boros. Bukan karena salah kelola. Bukan karena tertipu. Angkanya dari awal memang tidak akan sampai.
Mari kita hitung.
Katakanlah seorang karyawan bekerja 20–30 tahun, lalu pensiun dengan pesangon 32 kali gaji. Angka yang bagus. Kalau gajinya 15 juta, berarti dia pulang membawa sekitar 480 juta. Uang sebesar itu di rekening rasanya seperti tidak akan habis.
Sekarang pertanyaannya: kalau gaya hidupnya tetap sama seperti waktu bekerja, uang itu bertahan berapa lama?
32 bulan. Kurang dari 3 tahun.
Bukan hitungan yang rumit. Pesangon 32 kali gaji, dipakai dengan pengeluaran sebesar gaji, ya habis dalam 32 bulan.
“Kalau irit bagaimana, Pak?”
Baik. Katakanlah dia berhemat sungguh-sungguh, pengeluarannya ditekan jadi setengah dari gaji terakhir. Berarti 64 bulan.
Sekitar 5 tahun.
Itu pun dengan asumsi tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang sakit. Tidak ada anak yang pinjam uang. Tidak tergoda bunga tinggi. Dan yang paling tidak realistis: harga-harga tidak naik sama sekali selama 5 tahun.
Padahal kalau pensiun di usia 55 dan usia harapan hidup 75–80 tahun, artinya ada 20 sampai 25 tahun yang harus dibiayai. Pesangonnya menutup 5 tahun pertama. Sisanya dari mana?
Dari training-training yang saya bawakan, sekitar 90% peserta yang berencana hidup di masa pensiun hanya mengandalkan uang pesangon, kemungkinan besar tidak akan cukup.
Ini bukan menakut-nakuti. Ini aritmatika biasa.
Karena angka pesangon selalu dilihat sebagai jumlah, bukan sebagai durasi.
“Saya dapat 480 juta” terdengar sangat berbeda dengan “saya dapat 32 bulan”. Padahal keduanya angka yang sama persis.
Dan selama masih bekerja, tidak ada momen yang memaksa seseorang mengubah cara pandang itu. Gaji masuk tiap bulan, jadi pertanyaan “uang ini cukup untuk berapa lama” tidak pernah muncul. Pertanyaan itu baru muncul di tahun ketiga masa pensiun, ketika saldonya sudah terlanjur tinggal separuh.

Kalau diperhatikan, tujuh dari delapan penyebab di atas masih bisa dicegah. Yang nomor satu pun sebenarnya bisa diantisipasi — asal tahunya jangan pas hari terakhir kerja.
Perusahaan tidak bisa menambah besaran pesangon. Itu di luar kendali, dan menaikkannya pun tidak menyelesaikan masalah — 40 kali gaji hanya menambah beberapa bulan, bukan beberapa tahun.
Yang bisa diubah perusahaan adalah kapan karyawan tahu hitungan di atas.
Ada perbedaan besar antara karyawan yang baru mengerti hitungan ini di hari terakhir kerja, dan karyawan yang sudah mengertinya 5–10 tahun sebelum pensiun. Yang pertama cuma bisa pasrah. Yang kedua masih punya waktu mengambil keputusan yang berarti: menyiapkan penghasilan tambahan, melunasi utang sebelum masa pensiun, menata proteksi kesehatan, dan berhenti menganggap pesangon sebagai jawaban.
Inilah sebabnya materi persiapan pensiun paling berguna kalau disampaikan sebelum pesangonnya cair. Sesudah cair, yang bisa dibahas tinggal cara membagi uang yang sudah ada. Sebelum cair, yang bisa dibahas masih banyak.
Kalau di perusahaan Anda ada karyawan yang memasuki masa persiapan pensiun dalam 5 tahun ke depan, coba lakukan satu hal sederhana: ambil estimasi pesangon mereka, bagi dengan gaji bulanan, lalu bandingkan hasilnya dengan sisa usia hidup setelah pensiun.
Kalau hasilnya membuat Anda kaget, karyawan Anda juga akan kaget — hanya saja mereka baru akan kaget beberapa tahun setelah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sederhana: karena kita sudah tahu masalahnya, kita harus belajar.
Yang paling utama ada dua. Pertama, bagaimana caranya supaya uang pesangon dan uang pensiun itu cukup. Kedua, bagaimana mengatasi tujuh penyebab lain yang membuatnya habis lebih cepat.
Dua hal itu yang akan saya bahas di artikel-artikel berikutnya.
Terima kasih.
Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta. “Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa…
Baca artikel →Sejak tahun 2010 ketika saya mengajar training tentang perencanaan keuangan, saya sering bertanya ke peserta training, “Apakah kamu punya masalah uang dan keuangan?” Jawabannya?…
Baca artikel →Saya punya seorang teman dan dia adalah seorang Psikolog perkawinan senior. Saya ngobrol intens dengan dia terkait masalah yang terjadi di dalam keluarga. Beliau…
Baca artikel →Siapkan karyawan Anda menjelang purnabaktiProgram untuk perusahaan Anda
Lihat Training Persiapan PensiunLihat program