Cek keuangan hari ini
Sebelum menghitung pensiun, kita potret dulu keadaan sekarang. Angka di halaman ini tidak ikut ke perhitungan pensiun — ia menjawab pertanyaan yang berbeda: sehat atau tidak.
Neraca
Financial Check Up
Berapa yang Anda butuhkan
Empat angka: kapan berhenti, sampai kapan hidup, seberapa cepat harga naik, dan berapa yang keluar tiap bulan. Isi setelah kita bahas datanya bersama di kelas, dan tuliskan alasannya di kolom kecil — supaya enam bulan lagi Anda masih ingat kenapa angkanya sekian.
Waktu
Usia harapan hidup yang dipakai di sini bukan angka harapan hidup saat lahir. Yang relevan adalah perkiraan usia yang bisa dicapai oleh orang yang sudah sampai di usia pensiun — angkanya selalu lebih tinggi.
Dua angka asumsi
Hanya dua, dan keduanya menggerakkan seluruh lembar. Asumsi imbal hasil untuk tiap pos investasi Anda diisi nanti di tempatnya masing-masing, bukan di sini.
Biaya hidup per bulan, dalam rupiah hari ini
Pertanyaannya sederhana: kalau Anda pensiun hari ini, berapa yang benar-benar keluar tiap bulan? Jangan dihitung sebagai persentase gaji — cukup jawab apa adanya.
Selagi masih produktif
Selama Anda masih produktif, masih ada penghasilan yang bisa disisihkan. Ini jendela terakhir — dan lebarnya sudah ditentukan di Langkah 1.
Setoran rutin sampai pensiun
Isi yang sudah berjalan sekarang, bukan yang direncanakan setelah kelas ini. Rencana barunya keluar di Langkah 6.
Apakah dana Anda cukup?
Dua sumber saja: yang Anda terima dari perusahaan saat berhenti, dan hasil setoran rutin dari Langkah 2. Kita lihat yang pertama dulu — sendirian, tanpa bantuan apa pun.
Pesangon, BPJS Ketenagakerjaan, dan DPLK
Tiga pos, karena ketiganya tumbuh dengan cara yang berbeda. Semuanya diisi dengan pertanyaan yang sama: kalau Anda berhenti hari ini, berapa yang Anda terima?
Rencana pemakaian dana
Hampir tidak ada yang membawa seluruh pesangonnya masuk ke dana pensiun. Selalu ada yang dipakai lebih dulu — dan itu wajar. Yang tidak wajar adalah tidak menghitungnya. Isi dalam rupiah hari ini; lembar ini yang menumbuhkannya sampai hari pensiun.
Sisanya untuk pensiun, ditambah hasil setoran rutin dari Langkah 2
Aset Investasi
Angka di Langkah 3 tadi hanya menghitung uang dari perusahaan dan setoran rutin Anda. Aset investasi bekerja dengan dua cara: ada yang dicairkan jadi dana, ada yang menghasilkan tiap bulan. Keduanya diisi di sini, tapi hitungannya berbeda.
Aset investasi — kalau ada
Hanya aset investasi: bukan aset tunai, bukan aset pribadi. Kosongkan bila tidak ada.
Sumber penghasilan bulanan saat pensiun
Isi dalam rupiah hari ini. Centang "naik ikut inflasi" hanya bila nilainya memang menyesuaikan — sewa biasanya naik, manfaat pensiun berupa anuitas tetap biasanya tidak. Kolom sampai usia terisi otomatis sampai usia harapan hidup — ubah bila sumbernya memang berhenti lebih awal, misalnya anuitas yang hanya dibayar 10 tahun.
Hasilnya
Angka di bawah bukan ramalan. Ia hanya jarak antara apa yang Anda butuhkan dan apa yang sedang Anda siapkan — dengan asumsi yang Anda sendiri isi di Langkah 1.
Dana tersedia itu datang dari mana
Kalau ada pos yang Anda isi tapi angkanya "—" di sini, berarti ada yang belum masuk hitungan.
Bunga dananya ke mana?
Pertanyaan yang hampir selalu muncul: kalau dananya ditaruh di instrumen berimbal hasil, bukankah bunganya bisa dipakai untuk biaya hidup? Bisa — dan memang sudah dipakai. Bunga itu bukan uang tambahan di luar hitungan; ia yang membuat modal awalnya jauh lebih kecil daripada total yang akan Anda tarik.
Menutup kekurangannya
Kekurangan di atas tidak berubah. Yang berubah adalah berapa berat menutupnya — dan itu tergantung instrumen yang Anda pakai selama 6 tahun ke depan. Tekan salah satu, lihat angkanya bergerak.
Sisa dana dari tahun ke tahun
Garis ini menggambarkan masa pensiun saja — masa mengumpulkan sengaja tidak digambar, karena angka setoran di atas adalah jarak yang harus ditutup, bukan rencana yang sudah pasti terjadi.
| Usia | Biaya hidup/bln | Penghasilan/bln | Ditarik setahun | Sisa dana |
|---|
Lalu saya mau apa
Angka di Langkah 5 hanya berguna kalau berubah jadi keputusan. Tiap pilihan punya konsekuensinya sendiri — dan salah satunya punya konsekuensi yang paling sering menghabiskan pesangon.
Dana darurat dulu, sebelum apa pun
Ini yang dipisahkan lebih dulu dan tidak boleh disentuh. Patokannya 12 kali biaya hidup bulanan saat pensiun. Modal usaha dan dana darurat tidak boleh datang dari kantong yang sama.
Setelah pensiun, saya memilih
Boleh lebih dari satu. Konsekuensinya muncul begitu dipilih.