Dua Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun
Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta. “Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa…
Baca artikel →
Sejak tahun 2010 ketika saya mengajar training tentang perencanaan keuangan, saya sering bertanya ke peserta training, “Apakah kamu punya masalah uang dan keuangan?” Jawabannya? Wah, banyak banget Pak Andreas, saya punya banyak masalah uang!
Ketika saya tanya lagi, “Contohnya apa?” Contoh misalkan mereka bilang, “Wah, dikejar-kejar sama utang.” Problem yang lain lagi, mereka mengatakan, “Oh, saya ini kebutuhan hidupnya kok banyak banget.” Ada yang mengatakan lagi, “Wah, nggak bisa menabung.” Ada yang mengatakan lagi, “Wah, biaya pendidikan anaknya mahal, barang-barang naik.” Dan ada juga yang mengatakan meskipun jarang “Bingung pak mau investasi di instrumen apa?”
Nah, ketika saya perhatikan dan saya analisa, sepertinya kalau mereka bilang problem keuangan itu banyak, kok bagi saya melihatnya problem keuangan itu hanya ada dua ya.
Kenapa saya bilang dua? Ya karena sebenarnya yang mereka sampaikan itu semuanya mengerucut kepada dua hal.
Jadi kalau kita bicara masalah uang dan keuangan, ya itu aja masalahnya hanya kekurangan uang atau kelebihan uang.
Hadirkan materi ini langsung di perusahaan Anda Lihat Training Perencanaan Keuangan →
Masing-masing punya konsekuensi dan dampak loh misalkan :

Sekarang, kalau ditanya lebih lanjut, mana yang lebih banyak? Apakah orang yang problemnya kekurangan uang atau orang yang problemnya kelebihan uang?
Dalam setiap kelas, semua pasti sepakat mengatakan bahwa yang namanya problem uang itu lebih banyak orang yang kekurangan uang daripada orang yang kelebihan uang.
Lalu saya tanya lagi, “Kenapa kok lebih banyak orang yang kekurangan uang daripada orang yang kelebihan uang?” Jawabannya macam-macam. Ada yang bilang karena nggak bisa mengelola dan ada yang bilang karena mereka tidak tahu apa yang mesti mereka lakukan.
Namun, kalau saya perhatikan dan saya coba lihat dengan background saya di dunia science, sepertinya masalah kelebihan uang dan kekurangan ini ada sebuah hukum alam yang kok kayaknya rasanya kurang adil.
Kenapa saya bilang kurang adil? Coba kita analisa sebagai berikut.
Contoh sederhana, kamu sebagai karyawan bekerja selama 1 bulan, berarti kamu bekerja selama kurang lebih 30 hari, kemudian baru mendapatkan uang gaji. Tapi pertanyaan berikutnya, ketika kamu dapat gaji tersebut, apakah habisnya juga 30 hari? Jawabannya tidak. Dalam hitungan hari aja kalau mau dihabiskan bisa.
Apalagi karyawan yang pensiun. Banyak yang mendapatkan uang pesangon dalam jumlah yang besar dan biasanya perjuangannya cukup panjang, ada yang 10 tahun, 20 tahun, bahkan di kelas-kelas saya tidak jarang orang yang pengalamannya dan masa kerjanya sudah lebih dari 30 tahun.
Dengan perjuangan selama 20-30 tahun mereka akan mendapatkan uang pesangon pensiun dalam jumlah yang besar, lalu apakah uangnya akan habis dalam waktu 20-30 tahun juga? Jawabannya tidak, dalam hitungan beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan uang pesangon yang besar itu bisa habis.
Jadi, kalau seperti itu kesimpulannya, adil nggak? Dari kurang uang jadi kelebihan uang itu susah. Sebaliknya, dari kelebihan uang untuk jadi kekurangan uang itu ternyata gampang. Apakah ini sesuatu yang adil? Inilah mungkin yang menyebabkan kenapa orang yang kekurangan uang itu jumlahnya lebih banyak daripada yang kelebihan uang.

Tenang, solusinya kita punya sebuah ilmu yang namanya ilmu perencanaan keuangan. Dan inilah yang akan membantu setiap orang yang dari kekurangan uang supaya dia bisa menjadi kelebihan uang dengan lebih cepat—saya tidak bilang lebih mudah, tapi bisa lebih cepat ya.
Dan buat kamu yang kelebihan uang, dengan mengenal dan memahami perencanaan keuangan, maka kamu paling tidak minimal bisa mempertahankan uang tersebut, dan tentunya juga bisa melipatgandakan uang kamu menjadi lebih banyak lagi.
Maka di sinilah kita semua perlu belajar yang namanya perencanaan keuangan, baik yang masih usia produktif maupun yang mau memasuki usia pensiun. Supaya kamu bisa mengelola uang gaji dan uang pesangon dengan baik, jangan sampai uang gaji ataupun pesangon yang diterima menguap begitu saja.
Perencanaan Keuangan ID punya solusi untuk kamu yang mau belajar atau training perencanaan keuangan secara online bisa melalui Aku Ikut Training dan untuk kebutuhan inhouse training di perusahaan bersama Andreas Hartono, CFP melalui menghubungi halaman kontak ini.
Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta. “Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa…
Baca artikel →Ada satu pertanyaan yang hampir selalu saya ajukan kalau bertemu orang yang sudah pensiun di usia 60-65 tahunan. “Mas, uang pensiunnya masih ada nggak?”…
Baca artikel →Saya punya seorang teman dan dia adalah seorang Psikolog perkawinan senior. Saya ngobrol intens dengan dia terkait masalah yang terjadi di dalam keluarga. Beliau…
Baca artikel →Hadirkan materi ini langsung di perusahaan AndaProgram untuk perusahaan Anda
Lihat Training Perencanaan KeuanganLihat program