Dua Cara Menghitung Kebutuhan Dana Pensiun
Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta. “Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa…
Baca artikel →
Saya punya seorang teman dan dia adalah seorang Psikolog perkawinan senior. Saya ngobrol intens dengan dia terkait masalah yang terjadi di dalam keluarga. Beliau sudah praktik sekitar 30 tahun dan telah menghadapi ribuan—mungkin bahkan puluhan ribu—pasien atau klien dari berbagai kalangan keluarga.
Setiap klien atau keluarga yang datang ke ruang praktiknya hampir selalu membawa cerita rumah tangga yang sedang bermasalah. Entah itu masalah dari suaminya saja, istrinya saja, atau memang ada gesekan di antara mereka berdua. Ketika ditanya apa sebenarnya inti permasalahan mereka sampai mau berantem hebat, bahkan berujung niat mau cerai, jawabannya sering kali muter-muter nggak karuan. Penjelasannya panjang dan berbelit-belit. Padahal, kalau ditarik garis lurus dari ribuan kasus yang ditangani selama puluhan tahun itu, ujung-ujungnya akar masalah rumah tangga biasanya mengerucut pada lima problem utama yang paling sering terjadi.
Yuk, kita bahas 5 masalah di rumah tangga yang paling sering bikin suami istri berantem hebat!
Uang adalah sumber konflik klasik dalam rumah tangga, rasanya semua keluarga pernah mengalami hal ini baik dalam skala kecil maupun skala besar. Uniknya, kalau masalahnya murni soal keuangan, biasanya ini justru masalah yang paling “gampang” dicari solusinya dibanding masalah lainnya.
Orang tua atau mertua ternyata juga menjadi salah satu sumber konflik di dalam keluarga. Kenapa orang tua bisa bikin masalah di keluarga anak? Ada 2 alasan utama yaitu secara psikologis, katanya kadang orang tua itu masih ingin “hidup untuk kedua kalinya” lewat diri anak mereka. Lalu ada alasan kedua yaitu masalah ekonomi, banyak orang tua yang ternyata tidak siap untuk pensiun.
Siapkan karyawan Anda menjelang purnabakti Lihat Training Persiapan Pensiun →
Karena tidak siap pensiun, hidup mereka akhirnya jadi bergantung sepenuhnya secara finansial kepada anak. Beban anak jadi double: harus menghidupi keluarganya sendiri, tapi di sisi lain juga harus membiayai orang tuanya.

Kondisi anak punya pengaruh besar ke psikologis pasutri. Ketika anak sedang menghadapi masalah, biasanya orang tua ikut stres, terbebani, dan akhirnya rentan memicu pertengkaran di antara suami dan istri.
Kesehatan fisik suami atau istri, terutama jika terserang penyakit serius dan menahun, bisa menjadi ujian berat. Tekanan mental dan fisik ini sangat berpotensi menimbulkan gesekan, konflik, bahkan berujung pada perpecahan jika tidak dikelola dengan baik.
Ini adalah zona bahaya yang melibatkan kehadiran orang ketiga. Masalah kepercayaan yang rusak karena perselingkuhan tentu butuh usaha ekstra keras untuk diperbaiki.
Dari kelima poin di atas, kita bisa kerucutkan fokus pembahasannya ke masalah uang dan orang tua.
Kenapa orang tua bisa jadi masalah besar? Jawabannya balik lagi ke poin kedua: banyak orang tua yang tidak siap pensiun. Artinya, masalah orang tua ini sebenarnya punya korelasi yang sangat kuat dengan masalah keuangan.

Bahkan ada sesuai riset yang perlu dicarikan kebenarannya yang mengatakan bahwa orang di Indonesia ketika sampai di usia 60-65 tahun modalnya tinggal 2M. Tapi ini bukan uang loh! Kalau uang sih enak banget ya dimasukkan ke obligasi bisa dapat bunga puluhan juta per bulannya.
Lalu apa 2M itu ? Ternyata orang Indonesia di usia 60-65 tahun kalau belum mati maka akan melarat. Oalah 2M itu Mati atau Melarat dimana 2 pilihan yang sama-sama tidak enak. Tapi apakah ini benar? Kalau melihat realitas sih rasanya cukup banyak ya orang-orang mengalami masalah 2M ini di usia pensiun mereka.
Sekarang coba kita renungkan secara jujur. Apakah kamu yakin akan hidup sampai rentang usia 60
sampai 65 tahun? Jawabannya tentu saja pasti iya. Dan kalau kamu pasti akan menapaki usia 60-65
tahun tersebut, pilihannya di ujung hari nanti praktis hanya ada melarat! Kamu mau itu terjadi atau kamu mau ganti dengan M yang lain yaitu Mapan?
Kalau kamu tidak memilih mati atau melarat maka kamu punya alternatif mapan dengan syarat kamu mempunyai finansial yang cukup di masa pensiun nanti dan itu bisa kamu siapkan mulai sejak dini terutama di masa produktif kamu.
Jadi pilihannya bertambah ya jadi 3M yaitu mati, melarat atau mapan? Pilihan ada di tangan kamu dan kalau kamu mau mapan maka sekarang mungkin jadi waktu terbaik kamu untuk mulai belajar bagaimana cara mengelola uang yang benar.
Setiap kali saya membawakan training persiapan pensiun, ada satu pertanyaan yang selalu saya lempar lebih dulu ke peserta. “Bapak, Ibu, pernahkah Anda menghitung berapa…
Baca artikel →Ada satu pertanyaan yang hampir selalu saya ajukan kalau bertemu orang yang sudah pensiun di usia 60-65 tahunan. “Mas, uang pensiunnya masih ada nggak?”…
Baca artikel →Sejak tahun 2010 ketika saya mengajar training tentang perencanaan keuangan, saya sering bertanya ke peserta training, “Apakah kamu punya masalah uang dan keuangan?” Jawabannya?…
Baca artikel →Siapkan karyawan Anda menjelang purnabaktiProgram untuk perusahaan Anda
Lihat Training Persiapan PensiunLihat program